selamat pagi Indonesia
pada suatu hari tentu kan kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku
Aku tak tahu di mana aku akan mati
Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang
Ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam ;
Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam,
Ikan hiu berebutan datang ;
Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya : “siapa antara kita
akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air ?”-
Aku tak akan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku akan mati
Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena
ia mata gelap ;
Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan
kayu berpijar jatuh menimpa mayatku ;
Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan air pemadam api ; -
Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu dimana aku kan mati
Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik
kelapa untuk ibunya ;
Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya,
di dalam semak, seperti Si Unah ;
Maka ibuku tidak kan menangis, sebab ia sudah tiada. Tapi
orang lain akan berseru : “Lihat Saijah di sana !”
Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati
Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab rambutnya
sudah putih ;
Bila aku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap
sekeliling mayatku ;
Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-perempuan menangisi mayat pak lisu ; dan juga cucu-cucunya akan menangis, keras sekali ; -
Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Banyak orang mati kulihat di badur. Mereka dikafani, dan ditanam di dalam tanah ;
Bila aku mati di badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi ;
Maka adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan mengingsut mendesir rumput, …….
Aku akan mendengarnya.
(Max Havelaar, Mulatatuli)
……
……
bagaimana kau menyembunyikan cinta
sedangkan kedua matamu cermin terbuka
dan mulutmu tak berhenti mereka-reka kata
agar isi dada tetap menjadi rahasia?
kata-kata tak mampu menutup aurat
boleh jadi malah membukanya
aku dan kau hanya punya kata-kata
selebihnya baju penutup auratmu
apakah seperti seharusnya atau hanya menipu diri
atau takut tak dihargai
maka kau rahasiakan dirimu setiap hari
seperti pencuri?
(mustofa bisri, kumpulan puisi Negeri daging)
semoga tak lagi tersisa keinginan untuk menipu diri…
what is wrong with falling down???
you can always stand up again..
semoga…
matahari pagi ini sanggup menghangatkan hatimu..menyinari detik2mu..membawakanmu semangat untuk terus berlari..
semoga…
hari ini tak ada mendung yang kuasa menghapus senyum di wajahmu..
semoga..
setiap detik mampu membawamu lebih dekat kepada-Nya
huiiiihhhh…kangen banget deh buat nulis di sini..ga tau kenapa ya akhir2 ini saya sangat tidak produktif nulis..keinginan sih ada..tapi selalu aja ada alasan untuk ga nulis..hihihihi..
jadi..apa kabar nih dini???
lagi senang dan riang..menikmati hidup..kesibukan2 baru, kenalan2 baru,perasaan ‘aneh’ yang sepertinya baru pertama kali saya rasain..
sebetulnya bbrapa hr yg lalu mulai suka uring2an..ya bosan lah..gundah gulana lah..takut lah..ini lah..itu lah..sampai kakak saya berkomentar “kamu tuh ternyata bkn orang yg pandai bersyukur ya….”
thank u sist..telah menyadarkan adikmu si smurf penggerutu nih..saya akan jadi orang yang pandai bersyukur..menikmati setiap detik sebagai anugerah sekaligus amanah..
tidak lagi ada gundah gulana..
bukan karena aku begitu percaya padamu
tapi karena aku begitu percaya pada Rabbku
pasti ada alasan mengapa kita dipertemukan